Monday, April 25, 2011

Musafir rindu..

Si tua itu
sekali lagi membuat aku terpaku
terdiam...
tak terkata...

terpaku dek semangatnya...
terdiam dek kesungguhannya..
tak terkata dek keikhlasannya..

beliau musafir..
beribu batu..
merentas sempadan..
hanya kerana sebuah rindu..
rindu yang tidak dapat difahami...
kecuali oleh para perindu...

si tua itu..
kembali mengajarku..
untuk tidak pernah mengenal erti henti...
henti dari mencari ilmu..
henti dari bermusafir..
henti dari rindu..

oh..musafir rindu..
tidak ramai yang bisa memahamimu...
kerana jiwa perindu..
tidak akan pernah putus untuk merindu..

walau yang dirindu..
tidak pernah mengenali sang perindu...
namun sang musafir rindu itu tetap merindu...
dan akan tetap terus merindu...

oh...
Sang Musafir Rindu...
teruslah menjaga rindumu..
sehingga Allah membuka hati yang dirindu..
untuk mengenalimu..
dan untuk merinduimu...

oh...Sang Musafir Rindu....

Thursday, March 3, 2011

Aku Rindu Kau yang Dahulu...

Dulu..
Kau pegang tanganku..
erat-erat..
sehingga tiada angin yang bisa tembus..
memisahkan kita..

Dulu...
tanpa segan silu kau kata padaku...
"Friend forever"
sampai aku pula yang malu saat itu..
dek kata-katamu...

Tapi dari saat itu..
aku mula memandangmu dengan pandangan yang baru...
aku mula memandangmu dengan pandangan seorang sahabat..
selamanya...

Dari saat itu..
aku katakan pada diriku...
kau sahabatku selamanya..
Aku tidak akan meniggalkanmu..
selamanya..
susah senang bersama...
suka duka...
riang ceria...
bersama... 

Sejak hari itu...
kita lalui saat-saat manis bersama...
kemana sahaja berdua..
bersama..
tanda ada cinta antara kita...

tapi kini...
mengapa kau tidak seperti dahulu?
mengapa tiada lagi suka antara kita?
mengapa tiada lagi kasih antara kita?
mengapa tiada lagi cinta antara kita?

Kini kau semakin jauh dariku...
kau memilih jalanmu...
dan aku memilih jalanku...

Kita sudah lagi tidak jalan berdua...
Kita sudah lagi tidak bersama...

Aku telah memilih jalanku..
dan kau telah memilih jalan kau..
jalan yang kau katakan 'moden' itu..
jalan yang menghalalkan apa yang kau fahami haram sebelum ini..
sementara aku kau anggap kolot dan ketinggalan zaman..
kerana tidak melalui jalan yang kau lalui itu...

Aku terima semua kata-kata mu...
walau pahit..
kerana aku yakin...
dengan peganganku..
dan aku akan tetap berpegang dengan peganganku...
kerana begitulah harusnya seorang lelaki..
teguh diatas prinsip yang difahami dan diyakini..
bukan terikut dengan arus yang dikatakan kemodenan itu...

satu yang harus kau ingat...
sejauh mana pun kau dariku saat ini...
aku akan tetap disisimu..
sentiasa ada di belakangmu..
walau kadang kelibatku tak kau lihat...
aku tetap akan ada disisimu...

kerana aku rindu kau yang dahulu...

Sunday, November 28, 2010

mengapa Allah menciptakan kesunyian dan kesedihan?

Mungkin ada diantara kita yang pernah bertemu dengan persoalan ini dalam kehidupan..ya..persoalan ini sangat indah untuk kita bicarakan...

Dalam perjalanan kehidupan..akan ada waktu kita berasa sangat sunyi walaupun dikelilingi ramai orang disisi kita..

Dalam perjalanan kehidupan..akan ada waktu kita akan berasa sangat sunyi walaupun dikelilingi oleh gelak dan ketawa..

Dalam perjalanan kehidupan..akan ada waktu kita akan berasa sangat sunyi walaupun dikelilingi oleh harta yang sangat banyak...

lalu timbul satu persoalan...mengapa Allah menciptakan kesunyian yang amat didalam hati kita?

Dengan kesunyian itu...Allah ingin kita lebih dekat dengan Allah....
kerana ketika sunyi....kita akan merasa bahawa hanya Allah sahaja yang memahami kita...hanya Allah sahaja yang masih bersama denagn kita...

kesunyian dan kesedihan...adalah lumrah kehidupan...yang Allah ciptakan untuk kita agar kita lebih dekat denganNya.....

Sunday, September 26, 2010

Bilakah kali terakhir iar mata ini tumpah?

Mari sahabat...berhenti sebentar...mari mengambil sedikit masa untuk menevaluasi diri...melihat kembali kebelakang...melihat kembali perjalanan kita ini...

Saat saya sedang duduk-duduk,timbul satu persoalan,bilakah kali terakhir kita menangis?

menangis bukan krna ditinggalkan 'kawan',
menangis bukan krna kesedihan,
menangis bukan krna berjauhan,
tetapi menangis krna takut kepada Allah....

ya,menangis yang itu kawan..menangis krna takutnya kita kepada Allah Ta'ala....

Air mata bukan dicipta hanya untuk disimpan...tapi untuk dialirkan...alirkanlah kawan...alirkanlah ia saat kau bersendirian..saat kau dengan Allah...berdua...

Allah menyuruh kita untuk gelak sedikit dan menangis banyak...tapi kita gelak banyak dan menangis sedikit...astaghfirulLah..

kembalilah melihat dirimu...lihat apa yang telah kita lakukan sepanjang kehidupan ini...pasti disana akan ada dosa-dosa dan kemaksiatan...jangan kau hanya sesali perbuatan yang pernah kau lakukan...tapi hiasilah ia dengan tangisan...tangisan iman...

lebih baik engkau melakukan dosa lalu engkau istighfar dan menangis dari kau beramal tapi riya'

sahabat...Allah itu Maha Pengampun...jika kau datang kepada Allah dengan dosa yang sangat banyak tanpa engkau menyekutukanNya...Allah akan datang kepadamu dengan keampunan...

sahabat...nikmat apakah yang lebih besar selain diampunkan dosa dan dimasukkan kedalam syurga?

ambil sedikit masa..lihat kembali perjalananmu...dan menangislah...

Friday, September 24, 2010

Gelap Tapi Hangat


Keraton Kadariyah di Kampung Dalam Bugis, Pontianak, yang didirikan Sultan Syarif ’Abdurrahman Al-Kadri pada tahun 1771 itu, menyimpan dua buah benda berpasangan yang sangat indah. Keduanya adalah cermin besar buatan Perancis dari abad kedelapan belas. Keduanya begitu menjulang, lebih dari dua meter. Bingkainya cantik, penuh ornamen berkilauan. Meja rias yang menyatu dengannya berkaki logam penuh ukiran. Tetapi yang paling menarik adalah bahwa kedua cermin ini dipasang berhadapan.

Maka apa?

Keduanya saling menampakkan bayangan kawannya, berbolak-balik pantul memantul, kian dalam makin kecil hingga titik jauh yang seakan tak terhingga. Di dalam bayangan, ada bayangan. Ada lagi dan lagi. Sepertinya mereka saling mengaca, terus menerus tanpa henti hingga jumlah bayangnya tak lagi bisa dihitung. Orang-orang menyebut mereka berdua sebagai ‘Kaca Seribu.’

Mungkin begitulah seharusnya kita dalam dekapan ukhuwah. Kita terus saling bercermin tanpa lelah. Kita menampilkan bayangan terindah yang akan berlipat-lipat tanpa henti sebab hati kita dan orang yang kita cintai terus saling belajar dan saling memahami. Lalu kita menjadi sepasang saudara yang tak hanya bernilai dua, melainkan seribu atau bahkan tak terhingga.

***

Sebuah sore yang lengang dan matahari lamat-lamat. Kami sedang menyimak sebuah hadits, dan mencoba mengukur diri sampai di mana peran kami ketika datang petunjuk dan ilmu dari Sang Nabi. Adakah kami Naqiyah, atau sekedar Ajaadib? Atau jangan-jangan kami bahkan lebih jelek dibanding Qii’an?

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang aku dapatkan dari Allah,” demikian Rasulullah bersabda, “Adalah seperti permisalan air hujan yang deras menimpa bumi. Ada di antara tanah bumi itu Naqiyah, menerima air lalu menumbuhkan rumput yang rimbun dan tumbuhan yang lebat. Ada juga Ajaadib, ia menampung air lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengannya. Mereka minum, mengambilnya, member minum ternaknya, dan bercocok tanam. Air hujan ini juga menimpa sejenis tanah lain yaitu Qii’aan yang sekedar dilewati saja. Ia tidak menerima air dan tidak menumbuhkan rumputan.”

Seusai mengkaji dan mengangguk setengah mengerti, seorang kawan menatap dalam-dalam ke mata saya dan bertanya. “Jika seorang buta berkata padamu bahwa matahari itu gelap,” ujarnya, “Apa yang akan kau katakan padanya?” 

Saya tersenyum. Saya menunduk sejenak, memejamkan mata, menghela nafas dan merasakan tiap butir udara mencurahkan kenyamanan dalam dada. Lalu saya angkat dagu, menjawab sembari tersenyum lagi. “Akan kukatakan padanya: ‘Ya. Engkau benar, Saudaraku. Tapi bukankah ia hangat? Dan kita sama-sama merasakannya.’”

Kawan saya tersenyum. Tulus, saya tahu. Rigi-rigi otot di pertemuan kelopak atas dan bawahnya menegas. “Terima kasih,” katanya. “Engkau mengajariku perkara yang sangat berharga.” Dia tersenyum lagi. Saya tak mengerti, lalu takjub menanya, “Apa itu?” Saya tak merasa sedang mengajarkan apapun. Saya hanya menjawab sebuah umpama. 

“Engkau pasti tahu. Dan belajarlah untuk mengetahui bahwa engkau tahu.” Dia berlalu pergi.

Dia pergi meninggalkan perenungan untuk saya. Saya harus banyak belajar darinya. Dalam dekapan ukhuwah, meninggalkan renungan untuk saudara adalah sebuah karya dan keterampilan yang penuh makna. 

“Engkau pasti tahu,” katanya. Saya hanya bisa meraba dan menduga. Bahwa agar terasa bagi sesama, dalam dekapan ukhuwah kita harus belajar menghadirkan rasa terbaik kita. Bukan gemerlap cahaya. Bahwa dalam dekapan ukhuwah yang berharga adalah apa yang bisa kita nikmati bersama, bukan sesuatu yang secara egois kita sesap sendiri. Inilah asas agung bagi buku ini, Dalam Dekapan Ukhuwah. Maka untuk meraihnya, kita telah diajari menelusur beberapa butir pokok:

Pertama; dalam dekapan ukhuwah, iman kita diukur dengan mutu hubungan yang kita jalin. Seorang mukmin adalah seorang yang sesama aman dari gangguannya, merasakan ramah dan akhlaknya, serta menikmati kemanfaatan harta dan jiwanya.

Kedua; seiring itu, sebuah hubungan dalam dekapan ukhuwah harus didasarkan pada iman. Sebab segala jalinan yang jauh dari iman pasti sia-sia di sisiNya. Atau dia menjadi penyesalan yang tak putus-putus. Atau menjadi permusuhan di hadapan pengadilan akhirat; saling tuduh, saling tuntut, dan saling menyalahkan. “Aduhai celaka aku,” keluh sang kekasih tanpa iman, “Anda saja tak kujadikan si Fulan sebagai kawan mesraku!”

Ketiga; bahwa baik iman maupun ukhuwah bukanlah hal yang semula jadi dan bisa muncul sendiri. Hubungan antara keduanya juga bukanlah kaidah sebab-akibat. Keduanya adalah pemahaman sekaligus keterampilan. Keduanya perlu ikhtiar dan kerja-kerja. Keduanya dihadirkan dalam diri dengan upaya. Kita harus mempelajari ilmunya, memahami makna-makna, memperhatikan kaidahnya, melatih dan mengamalkannya di alam pergaulan.

***

“Dan belajarlah untuk mengetahui bahwa engkau tahu,” kata kawan saya tadi. 

Ah, barangkali ini sindiran terindah yang pernah saya terima. Biar saya tebak: belajar mengetahui bahwa saya ini tahu berarti saya tak boleh berhenti dalam kata. Saya tak boleh selesai sekedar berkalimat. Lembar-lembar buku Dalam Dekapan Ukhuwah ini menanti untuk diukirkan dalam diri melalui amal shalih di tiap bilangan hari. 

Tulisan saya berlembar-lembar lalu mungkin menjadi bukti baginya bahwa “saya sedikit tahu”, meski ilmu saya sesungguhnya dangkal dan kering. Penyampaian yang meloncat-loncat adalah bukti betapa tak eloknya buku ini hendak menuntun pembaca. Pembacanya pasti merasa bukan digandeng mesra meniti makna, melainkan diajak meliuk, melompat, terbang, menukik, bahkan kadang terjerembab namun bangkit dan berlari lagi. 

Juga, tak ada yang baru dari buku ini, kecuali mungkin komposisi dan cara menyajikannya. Dan sungguh ini buku yang tak selesai, tak final, tak hendak putus. Selalu masih ada benih terlewat yang akan berkembang jadi bunga-bunga penuh cinta di antara kita.

Adapun “belajar mengetahui bahwa saya tahu” adalah dengan mengerjakan segala yang tertulis. Sebelum begitu, maka buku ini hanya jasad mati. Sebab ruhnya ada di sini; dalam amal-amal yang saya harus berjuang untuk tahan dan teguh menjalani. Sebab itu saya mohon doa. Saya mohon doa agar mendapat karunia seperti disebut Sayyid Quthb ketika menutup tafsirnya tentang pohon yang baik di Surat Ibrahim. Karunia itu adalah keteguhan.

“Allah,” tulis Sayyid, “Meneguhkan orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan di akhirat dengan kalimat iman yang mantap di dalam hati, yang kokoh di dalam fitrah, dan yang membuahkan amal shalih nan selalu baru dan abadi dalam kehidupan.” Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji... 

Mari saling mendoa dan mengejanya dengan kerja, dalam dekapan ukhuwah.

bocoran dari buku 'Daam Dekapan Ukhuwwah' karya Salim A.Fillah

Saturday, August 14, 2010

"Tidak boleh tidak,kita mestilah mulakan dari bawah"

Erdogan,si pemimpin Turki itu,begitu lantang menyatakan pendirian beliau di peringtak antarabangsa dalam mempertahankan Islam.Tidak perlu diperklenalkan lagi...Bahkan ramai yang menganggap beliau adalah pemimpin Islam yang sebenar pada zaman ini,dan kita semua menjadi saksinya apabila Turki yang mula-mula menggerakkan dan menaikkan kembali semangat dunia dalam isu Palestin.

Sebuah kepimpinan yang terpuji.Tegas!

Tapi begitulah yang akan terjadi,apabila pemimpin adalah pemimpin yang beriman,tetapi tidak bawahan.Turki masih seperti dahulu,seperti yang kita kenal.Kebebbasannay dan sebagainya.Tidak berubah.

Maka amat tepat sekalilah kata-kata Shakib Arsalan ketika mana ditanya oleh para wartawan setelah runtuhnya khilafah Islamiyyah pada tahun 1924,mengapa tidak disatukan seluruh negara 2 Islam dan kembali mencipta khilafah Islamiyyah?

Jawab beliau:
"Tidak boleh tidak,kita mestilah mulakan dari bawah"
Ya,membina dari bawah.Menyediakan pemuda-pemuda yang kuat aqidahnya.Kita ingin melahirkan warganegara yang kuat berpegang kepada ajaran Islam.Kita ingin melahirkan generasi yang akan kembali menyambung perjuangan para Nabi.

Untuk merialisasikan impian ini,mendapat balik Khilafah Islamiyyah,tidak dapat tidak,kita harus membina dari bawah.Tamankan dalam jiwa para pemuda 10 muasofat ini.

Sesudah lengkapnya peribadi seorang pemuda itu dengan ciri-ciri ini,barulah kemudian kita melangkah ke peringkat yang seterusnya iaitu membina sebah keluarga Muslim dan seterusnya sehinggalah mencapai satu maltlamat,Khilafah islamiyyah atau ustaziyatul 'alam..

Sunday, August 8, 2010

"Aku yang menurut perintah"


Ketaatan.Itulah kunci utama kejayaan mana-mana jemaah sekalipun.Ketaatan kepada ketua atau Qiyadah.Tanpa ketaatan yang padu daripada yang diperintah,Jemaah tidaka akan dapat mencapai objektifnya kerana tiadanya ketaatan.

Namun harus diingat,dalam mentaati,harus ada batasnya.
"Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam maksiat kepada Allah"

Sikap 'aku yang menurut perintah seharusnya ada dalam siri setiap kita kerana 
tanpa kita sedar mungkin,kita semua pemimpin dan kita semua dipimpin.Seporang pemimpin bertanggungjawab terhapad pimpinannya dan yang dipimpin bertanggungjawab untuk mentaati kepimpinannya.

Sikap 'Aku yang menurut perintah' tidak akan dapat kita rasakan sehinggalah kita benar-benar ikhlas untuk berjuang.Kerana setelah ikhlas,yang ternampak didepan mata kita hanya ganjaran dari Allah sahaja.Tiada yang lain.

Dari sifat itu,kita akan berusaha sekuat mungkin untuk memberi sumbangan kepada jemaah walaupun peranan yang kita mainkan hanya sedikit sahaja.
Terkadang kita akan merasa seperti dihina apabila kita hanya diberikan tugasan yang remeh setiap kali program diadakan.Mungkin hanya menjadi AJK kebersihan atau AJK pemantauan yang mana tugasannya sangat kecil dan terkadang tidak kelihatan pun.

Tapi ikhwah filLah,dengan sikap 'aku yang menurut perintah',kita akan cuba untuk tetap ikhlas melakukan sesuatu hanya kerana Allah.
Walau terkadang kehadiran kita dalam jemaah tidak dipandang,tapi kita yakin,dengan sikap 'aku yang menurut perintah',insyaAllah...didepan kita ada ganjaran dari Allah..